-100 truths-
YOU
001. Real name → Oky Septya
002.
Like it? → Hmm.. enggak. Tapi berusaha menerima dengan lapang dada.
Belakangan baru tahu kalau Nama "Oky" adalah sebuah singkatan. Dan
artinya.. mau tahu aja sih. Xixixi.
003. Nickname(s)→ Oky, Kiki,
O'ok (sialan! sapa sih yg nyiptain panggilan ini?), Ochik (udah jarang,
yg demen manggil gini cuma sobat kelas 1 SMA.
004. Status → Pelajar - Siswa SMA
005. Zodiac sign → Virgo the Virgin
006. Male or female → Female
007. Elementary→ Err.. lupa. Berapa kali yak saya pindah sekolah?
008. Middle School → SMPN 1 Madiun
009. High School → SMAN 2 Madiun
010. Hair color → Hitam mengkilat *kebanyakan diminyakin*
011.
Long or short → Pendek sampai 2 bulan yang lalu. Atas permintaan Ibunda
tercinta, saya harus memanjangkan rambut. Berhenti jadi tomboy dan cuek
:(
012. Eye color → Hitam *I love Black*
013. Weight → Umm.. 41 kg *Yes, naik sekilo!*
014. Height → 155 cm, Ugh, padahal pengen banget bisa sampai 160, kapan tingginya sih? Perasaan dari dulu segini mulu.
015. Righty or lefty → Righty
016. Loud or Quiet → Queit, emang tipe yang suka ngelamun, jadi sering telmi kalau diajak ngobrol.
017. Sweats or Jeans → Jeans --> saya tipe yg mendahulukan kenyamanan dan kasual XD
018. Phone or Camera → Phone. Multi soalnya.
019. Health freak → Bukan. Nyokap saya tuh.
020. Piercings?→ Cuma di telinga kanan-kiri. Nggak bisa bayangin piercings di anggota badan lainnya >.<
021. Do you have a crush on someone? → hmm... hmm hmm.. ihihihi *cengar-cengir gejeh*
022. Eat or Drink → Both.
023. Purse or Backpack → Err.. artinya apaan nih =.=a *TOEFL dengkul*
024. Tattoos → Pengen, tapi yg nggak permanen macam Heyna.
025. Do You Like Yourself? → Banget. Walau banyak kekurangannya
026. Current worry? → Komedoooo *dangkal banget*
THIS OR THAT
027. Orange or Apple Juice? → Orange. Sueeeggeeerrr rek!
028. Night or Day? → Night
029. Sun or Moon? → Sun *nah, kontras ma yg di atas yak*
030. TV or Internet? → Internet. Sinet skrg mana ada yg mutu. Rusak tuh otak
031.PlayStation or XBox? → Nggak bisa main keduanya. *iya, katrok saya, napa emang?*
032.
Kiss or Hug? → Hug. Dapet semuanya dalam satu waktu. Kiss kan cuma di
bibir doang kan? Bisa sih menjarah semuanya, tapi butuh waktu lama
*ngaco!*
033. Iguana or Turtle? → Turtle. Sobat saya pernah punya iguana, ngeri bayangin dia tidur bareng iguana di kasurnya *merinding*
034. Spider or Bee? → Nggak suka semuanya *huweeek*
035. Fall or Spring? → Spring dong.
036. Limewire or iTunes? → Winamp. ~LOL
037. Soccer or Baseball? → Baseball *ketularang H2*
FIRSTS
038. First surgery → Belom pernah. Berkali2 nyaris, tp selalu di gagalkan kesembuhan. Alhamdulillah.
039. First piercing → Ini, saya kan cewek, sejak lahir kali ya *ga inget*
040. First best friend → Nggak inget. Saya pelupa parah.
041. First Sport? → Kasti. my favorit.
042. First award → Lupa lagi *hayoolo, bilang aja nggak pernah dapet award~*
043. First crush → TK. Buakakaka
044. First pet → keburu di buang bokap. LOL.
045. First big vacation → Ke.. lupa nama tempatnya. Pokoknya di Kalimantan, liat-liat bangke buaya yg baunya naudzubillah.
046. First big birthday → Setiap tahun dengan tumpeng. Wajib. LOL.
CURRENTLY
047. Eating → Brownies.
048. Drinking → Jus Jambu Merah *penangkal DB, kata nyokap* :))
049. I'm about to → sleep.
050. Listening to → S.O.S ost Mama Mia
051. Singing? → nope.
052. Typing? → yuppie
053. Waiting for → 01.00 PM.
YOUR FUTURE
054. Want kids? → iya lah..
055. When? → after married
056. Want to get married? → pasti, separuh agama gitu loh.
057. When? → Hah? sedapetnya jodoh =))
058. Where Do You Want To Live? → Hm.. mana ya. Amrik, Jepang, Eropa mungkin XD
059. Careers in mind → Ehem.. jd DIRUT perusahaan sendiri, Diplomat *amin* atau.. xixixi
060. What Did You Want To Be When You Were Little? → Parmugari =))
061. Mellow Future Or Wild? → Wild
062. Something You Would Never Try? → Killing somebody.
WHICH IS BETTER WITH BOYS?
063. Lips or eyes → lips
064. Shorter or taller? → Taller
065. Romantic or spontaneous → Spontaneous
066. Nice stomach or nice arms → Stomach!
067. Sensitive or loud → Sensitive
068. Hook-up or relationship → relationship
069. Trouble maker or hesitant → hesitant.
070. Hugging or Kissing? →uhuk-both-uhuk
071. Tan Skinned or Light? → Tan Skinned
072. Dark or Light Hair? → Dark.
073. Muscular or Normal? → Normal.
HAVE YOU EVER
074. Lost glasses/contacts → nggak pernah, pecah dan patah sering tuh.
075. Ran away from home → Nggak, saya pecinta rumah. :D
076. Held a gun/knife for self defense?→ nggak sama sekali :|
077. Killed somebody → no no no. Bunuh nyamuk sering *serius*
078. Broken someone's heart → Sering. Blakblakan sih saya.
079. Been arrested → Never have
080. Cried when someone died → Nggak pernah juga.
081. Kissed A Stranger? → Nggak bakalan
082. Climbed Up A Tree? → Wah, julukan monyet dari kecil.
083. Liked A Friend As More Than A Friend? → Keliatannya gimana *ketip2*
DO YOU BELIEVE IN
084. Yourself → pasti
085. Miracles → hu uh
086. Love at first sight → nope
087. Heaven → Yes
088. Santa Claus → definetely No!
089. Kiss on the first date → Ahahaha
ANSWER TRUTHFULLY
090. Is there one person you want to be with right now → Hu uh.
091. Do You Like Someone? → yap.
092. Are you seriously happy with where you are in life → Optimis dong! Happy, cmon people!
093. Do you believe in God → HO OH LAH.
LASTS
094. Recieved/Sent Text Message → Nyokap. Sms minta dikirimin duit :p
095. Received Call → Edrick Purnomo, bahas soal movie.
096. Call Made? → Bokap. Minta di beliin camilan pas pulang kerja. Syahaha.
097. Comment On MySpace? → Ga punya.
098. Missed Call? → Bebek. Ga sabaran dia kalau smsnya di kacangin.
099. Person You Hung out With? → Temen2 sekelas seminggu terakhir ini. Iya, SEKELAS.
100. Post as 100 truths and tag.
101. Something you wish for right now → Sakit tenggorokan saya berakhir =.="
Dapet tugas dari Baro.
Sejak zaman kapan yak.. lama pokoknya. Cuma kebiasaan saya yang suka
males-malesan akhirnya terlantar dah nih tugas. Maap ya dek, ini baru
sempet saya kerjain sekarang walo telat *bungkuk2*
Peraturan
Semua aja deh, kayaknya yg saya kenal udah pada bikin ini *salah sendiri telat buat*
I got this from Facebook. You choose to do this or not. I just though it's fun to do simple thing like this. Hope you like it ;)
Yes, I did
Do you secretely hope that a specific relative will die?
I do
Do you know you have mold growing in the refridgerator and do nothing about it?
No, I don't
Have you ever been attracted to someone very unattractive?
I have
Would you prefer to sleep with your dog than anyone else?
No, I prefer to sleep alone
Would you eat a cow eye for a price?
I would never do that, I'd like to eat it when I want to
If the walls could talk, what would they say about you?
You're cute. ~LOL
Do you secretly pick your scabs?
Nope
What would your best friend be surprised to know about you?
To know that I'm not really love them
Do you think male and females can be friends?
Why not?
What technological device could you not live without?
Notebook and internet
If you could have been born in any year, what year would it have been?
1990
Would you like to be famous?
Not really
Have you ever drank pickle juice straight from the jar?
Never have
Do you lie about your weight?
Never
Nama : Azalea Wuther
Asrama : Ravenclaw
Kelas : 4
Vis : Rachel Hurd-Wood
Aku punya teman.
Secara harfiah, dia tidak sendirian di Shrieking Shack sekarang karena entah bagaimana Benham tiba-tiba saja muncul dari ujung jalan. Good, Aze sudah merasa horor berada disini sendirian seperti orang dungu. Sendirian, di Shrieking Shack, kedinginan. Hebat. Tinggal menunggu waktu hingga salah satu setan yang hobi menjerit disini mengajaknya mengobrol tentang permen pelega tenggorokan mana saja yang sekiranya bakalan cocok untuk tipe hantu macam penunggu Shrieking Shack.
Aze berdiri sambil membersihkan serpihan salju yang menempel di mantelnya, akar pohon maple yang ia duduki tampak basah karena salju dilelehkan panas suhu tubuhnya. Sambil menapak hati-hati agar tidak tergelincir salju, Aze berjalan pelan menuruni bagian tanah yang melandai menuju jalan setapak. Catat ini, berjalan dengan pelan, okay? Benham sekarang sedang membelakanginya—menatap Shrieking Shack. Ada yang bisa menebak apa yang akan Aze lakukan?
Huaaachuuu..
Ah, prefect, dasar musim dingin sialan, hilang sudah rencananya mengejutkan Benham. Padahal bakal mengasyikkan membuat Benham yang cuek itu ketakutan setengah mati, maksud Aze, hello, ini Shrieking Shack—gubuk menjerit, yang katanya berhantu itu lho. Pasti menyenangkan sekali kalau besok beredar kabar bahwa Benham lari terbirit-birit—minimal terpeleset karena kaget, deh—di Shrieking Shack hanya gara-gara seorang gadis manis meneriakkan kata “Boo!”. Dapat intinya, tidak? Aze berhasil mempermalukan Benham—atau tadinya akan berhasil mempermalukan Benham. Karena yah, musim dingin sialan sama dengan bersin sialan. Maaf tentang pemakaian kata sialan yang berlebihan barusan.
Oh, sial, ia melakukannya lagi. Memakai kata-kata “sialan” itu, maksudnya. Oke, oke, akan ia coba untuk berhenti menggunakannya.
Aze paling benci dengan musim dingin. Ia tipe gadis musim semi, asal kau tahu. Ia menyukai rasa geli yang menggelitiki hidungnya ketika perlahan udara mulai menghangat, matahari mulai tampak malu-malu dari balik awan, angin dingin yang ganas berhenti merontokkan dedaunan, dan kelinci-kelinci mulai menampakkan telinganya. Yeah, semua perasaan itu. Dan bau rumput segar di pagi hari itu juga menyenangkan sekali. Ngerti, kan? Makanya, ia benci sekali jika udara sudah mulai lembab, basah, dan dingin seperti sekarang. Membuatnya sakit kepala saja—terutama, ia benci dengan insiden hidung berlendir.
“Hai, Benham.” Ah peduli kodok dengan ide-bikin-Benham-kaget tadi. Suara bersin tadi sudah cukup mengaktifkan sensor pendeteksi makhluk manapun, kalau saja Aze punya kemampuan memancarkan gelombang infrasonik. Aze berpegangan pada dahan pohon yang rendah sebelum melompati tonjolan akar, sedikit terpeleset tapi ia pegangannya cukup erat, selangkah kemudian ia sudah berada di sebelah Benham.
“Sendirian, eh? Memangnya kau mau berkencan dengan hantu yang suka menjerit ya?” Aze berkomentar asal sambil mengedikkan bahu ke arah Shrieking Shack, cengiran di bibirnya menunjukkan bahwa ia cuma bercanda. “Jangan sampai kau tersesat di dalamnya, aku akan menunggumu disini, jika dalam tiga puluh menit kau tidak kembali, aku akan memanggil bantuan, kau tenang saja.” lanjutnya kemudian dengan mimik serius. Kalau Tyler jeli memperhatikan, Aze menarik sudut sudut bibir kanannya ke atas, hanya sedikit. Hal yang mengindikasikan ia bercanda, omong-omong. Semoga saja selera humor Tyler bagus karena Aze tidak ingin satu-satunya teman di tempat horor ini menyingkir.
Yah, siapa tahu saja Tyler benar-benar kepingin mampir ke Shrieking Shack.
Nama : Tyler Benham
Asrama : Gryffindor
Kelas : 4
Visualisasi : Chance Crawford
Kemarin sudah datang.
Sekarang datang lagi, walaupun tak pernah akan membosankan.
Kembali ke tokoh utama kita hari ini. Seorang Benham yang tampan, sopan, ramah, rajin menabung dan tidak sombong serta selalu minum susu sebelum tidur dan patuh pada peraturan. Sedang berdiri memandangi Shrieking Shack dari kejauhan. Memasukkan kedua tangannya pada celana panjang putih gading hadiah menang undian yang dikirim Mrs Benham musim panas lalu. Remaja tampan-luar biasa itu menghela nafas, uap yang keluar dari mulutnya sudah menunjukkan betapa dinginnya udara sekitar. Foresight bintittan! Whoa--Apa yang bisa membuat remaja tampan kita marah-marah eh? Oh-oh, rupanya. Kalau kita menarik waktu kebelakang kira-kira lima belas menit yang lalu. Saat semua anak tahun ketiga keatas akan menuju Hogsmade, jacket serta syal remaja-nan-tampan kita itu tertinggal. Saat akan meminta ijin mengambil, Foresight-yang kebetulan saat itu bertugas jaga-hanya menggelengkan kepala dan menggumamkan 'salahmu-sendiri-masuk ke dalam-dan tak boleh keluar lagi' Tahukan gerbang Hogwarts pengawasannya diperketat saja akhir-akhir ini entah kenapa? Bagus. Dan Tyler tak akan mau melewatkan kesempatan menghirup udara 'dingin' di Hogsmade. Lebih baik mati beku, bung. Dan sekarang, disinilah dia. Berdiri memandang Shrieking Shack dengan hanya mengenakan kaus tipis hitam dengan garis-garis kuning abu-abu. Tanpa perlindungan dan pertahanan apapun terhadap udara dingin yang menggigil. Masuk Three Broomstick atau Madam Puddifoot? Sorry men, Tyler ingin kunjungannya kali ini murni back to nature, lagipula alasan utamanya adalah dia tidak dikirimi uang tambahan untuk sekedar beli Butterbeer di Three Broomstick. Minta? Gengsi dong.
I'm cold
You're cold
You go around
Like you know
Who I am
But you don't
You've got me on my toes
Yeah, sekarang Tyler sendirian memandangi Shrieking Shack. Pemandangannya tidak mengecewakan, indeed. Putih dan cantik, pohon-pohon tertutup salju, bukit-bukit cantik yang tidak membuat mata jengah melihatnya. Tapi kalau hanya memandang-mandang itu saja tidak asik dong, sudah dibela-belain datang dengan pakaian setipis ini tidak ada kejadian menarik. Well, tak usah kejadian sebenarnya, teman mengobrol saja sudah cukup. Untuk membuang waktu supaya Tyler tidak buru-buru balik ke kastil dan mendapatkan senyuman kemenangan Foresight karena tidak bisa bertahan cukup lama di Hogsmade. Pret cuih, tak sudi Tyler. Bruk. Remaja cakep itu duduk diatas salju dengan kaki diselonjorkan. Toh tak ada siapa-siapa, jadi sah-sah saja. Kecuali ada beberapa bidadari atau bidadara yang mau menemani Tyler amat-sangat-dipersilahkan sekali.
(OOC:*Credit to Jonas Brother.
Hujan lagi..
Walau aku suka sekali hujan, tapi ini mulai terasa membosankan.
Kau
tahu, aku suka mencium bau hujan ketika itu pertama kali turun.
Kemudian aku suka mencium harum rumput segar setelah hujan berhenti.
Iya, aku suka hal-hal klise semacam itu. Tapi, musim penghujan ini
mulai menyiksa. Matahari yang seharusnya tampak pukul 6 baru tampak
pukul 8. Itu pun masih sejuk. Untukku yang terbiasa diterpa suhu 42˚ C
sepanjang tahun, keadaan ini benar-benar sangat tidak nyaman.
Benar-benar sangat tidak nyaman.
Dengan datangnya musim hujan
ini, dan awan kelabu yang gemar berparade setiap ada kesempatan,
membuat suasana jadi muram. Oh, mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi
aku benar-benar merasa muram. Suasana ini—yang terasa seperti musim
gugur—membawa atmosfir sendu, syahdu, kelabu.. Beberapa orang yang
sentimentil akan menganggapnya romantis. Entahlah, aku tak tahu
bedanya. Yang pasti keadaan ini membuatku mengantuk.
Sekolah
mulai menyuruh kami masuk siang. Membuatku dapat menikmati detik-detik
kemunculan matahari. Kebiasaanku yang baru, setelah mandi, sebelum
memakai seragam, aku membiarkan tubuhku di terpa sinar matahari pagi
yang menembus masuk melewati sela-sela serat kaca jendela kamar.
Berbaring—terebah—diatas kasur busa, hangat suam-suam kuku terasa
nyaman. Kadang aku memejamkan mata sejenak dan berkata, “Oh,
nyamannya.” Aku tidak ingin terbangun untuk menghadapi hidup. Aku ingin
rebahan terus seperti itu hingga aku kepayahan, atau dilanda kebosanan
luar biasa. Lihat betapa buruknya efek mendung ini, membuatku semakin
malas.
Meski aku sering menggerutu dan mengeluhkan betapa
panasnya kota ini, aku toh tak juga bisa berhenti menggerutu ketika
suhu udara menurun tanda tahun memasuki musim penghujan. Dulu, ketika
panas melanda kota sepanjang tahun, aku merutuki sekolahku yang tidak
menganggarkan AC untuk setiap kelas. Namun sekarang aku merutuki
mengapa anak-anak dengan daya tahan tubuh kuat harus menyalakan kipas
angin sepagi ini, membuat perutku mulas saja. Dulu, ketika kulihat
barometer termometer ruangan sampai di angka 40˚ C, tepat disaat
matahari diatas ubun-ubun, dan aku tak kuasa menahan rasa laparku, aku
merutuki orang yang menyusun jadwal mata pelajaran yang menjadwalkan
Kimia di jam terakhir. Mengipasi diriku dengan buku setebal 300
halaman, berkali-kali melirik jam tangan untuk melihat sisa menit yang
harus kuhabiskan. Namun sekarang, aku tak kuasa untuk tidak
menggosokkan kedua telapak tanganku ke pipi setiap satu menit sekali,
bertahan didalam ruangan dan enggan keluar untuk pulang. Menggigil
setidaknya tiga kali dalam lima menit yang menyiksa. Dan terus menerus
mendesah menahan mulas. Aku kedinginan, oke?
Yang lebih
mengkhawatirkan adalah, betapa menakutkannya melihatku mengantuk terus.
Menguap begitu sering sampai aku ngeri membayangkan berapa ribu
jaringan otot pipiku yang mungkin saja bisa terluka akibat gerakan
ekstrim ini. Hei, aku ini dapat bertahan hidup dengan tidur hanya 2 jam
sehari. Aku betah terjaga semalaman, menonton daftar film yang menumpuk
di laciku, atau membaca novel yang tersusun rapi di lemariku. Terjaga
hingga dini hari. Tertidur setelah sholat subuh, kemudian bangun
satu-dua jam kemudian. Melewatkan aktivitas tak penting sepanjang hari
tanpa makna—tak ada satu pun yang masuk dalam otakku, asal tahu saja,
semua lewat begitu saja—kemudian terjaga sepanjang malam dan tertidur
di waktu yang sama seperti pagi sebelumnya. Hei, aku ini bicara apa
sih, yang ingin kukatakan adalah, aku paling betah tidak tidur
seharian, dan sekarang ketika aku mulai mengantuk terus aku mulai
bertanya-tanya apa ada yang salah dengan diriku?
Oke, biasanya,
sepulang sekolah, aku akan kepayahan, kelaparan, dan stres luar biasa
jadi aku menghabiskan separuh sisa siangku—dan sore—untuk membaca
novel. Biasanya aku akan menyelesaikan novel-novel itu hingga maghrib
lalu belajar, dan tengah malam mulai membaca lagi hingga dini hari
(lihat, aku bahkan tak punya waktu untuk tidur). Tapi, tidak-biasanya,
aku meletakkan tasku, ganti baju, makan siang lalu menjamah novel dan
langsung ketiduran pada menit pertama. Padahal yang kulakukan hanya
mengambil novel, merebahkan diri di kasur, bergelung dalam selimut
(well, benar-benar dingin bagiku), membuka halaman pertama, membaca dua
kalimat, dan uh.. kantuk yang amat sangat langsung menyerangku tanpa
ampun, demi Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Oh, ini bahkan
semakin menyedihkan. Aku terbangun ketika adzan maghrib berkumandang.
Mengambil air wudhlu, sholat, makan malam, dan tanpa mandi—cuacanya
dingin sekali, aku takut membeku di kamar mandi—kembali ke kamar tidur.
Mencoba untuk belajar, tapi aku tidak berminat belajar sama sekali
akhir-akhir ini—ugh, seperti aku pernah minat saja—dan yang kulakukan
hanya rebahan sebentar. Menunggu hingga moodku membaik sebelum meraih
buku—biasanya ini berhasil. Tapi, uh, lagi-lagi.. aku ketiduran. Aku
bukannya tidak sadar bagaimana bisa jatuh tertidur. Rasa kantuk itu
datang begitu saja, membuat kelopak mataku mengkhianatiku. Berat,
berat, semakin berat untuk kutanggung sendiri, meski aku berteriak
dalam hati agar ia tidak menyerah, tapi toh mataku tidak menurutiku dan
ia terpejam begitu saja. Aku kalah..
Aku dikalahkan hujan
Aku dikalahkan oleh hatiku sendiri yang terlalu lemah
Aku dikalahkan rasa manjaku yang berlebihan
Suasana muram ini membosankan sekali
Player: Ivy Alexey Robson
Asrama : Ravenclaw
Kelas: Tiga
Vis:

"Foresight bodoh! Curang!"
Gadis itu
menjerit kesal sambil memeluk Axelette erat-erat, ngeri boneka beruang
yang berharga itu jatuh dan kotor, walau, yeah, ia tahu pasti berani
kotor itu baik. Tapi tidak untuk si kecil Axelette. Dia tak akan rela.
Tak akan pernah rela. Alex memandang punggung Foresight yang beberapa
kali lenyap dari mata biru aquamarinenya yang bening. Gila.
Bisa-bisanya dia bergerak sebegitu cepat di tengah berpuluh jenis
cabang yang siap mencederai anggota tubuh mulus siapa saja yang dengan
kurang kerjaan masuk ke hutan terlarang. Gadis itu menyeimbangkan
langkahnya yang beberapa kali missed dan menginjak beberapa ranting
kering dengan kejam hingga menimbulkan bunyi berkeretak menakutkan.
Sial sekali si Foresight ini. Mentang-mentang kakinya panjang. Alex
mendengus kesal dengan tangan kanan menyibak ranting-ranting tajam yang
telah berhasil menyisakan lebih dari sepuluh sayatan di sekujur
lututnya. Beruntung mantelnya berhoodie sehingga pipi tembamnya tidak
sedikitpun tercoreng. Ini akibat kelakuan si Foresight gila yang tidak
bisa pakai otak.
Selalu tebarkan masalah
Main beri, detensi,
Pada semua
Tererereret tererereret
Yeah,
ini kelakuan si Foresight gila yang tidak tanggung-tanggung memberi
sambutan pada Alex. Cih, kalau tahu caranya harus masuk hutan terlarang
segala, dia mah tidak mau itu, ikut-ikut si Foresight. Nah yang jadi
masalah, dia teh tidak tahu sama sekali. Hoyong. Alex mengerling ke
depan, mulai kehilangan sosok Foresight. Tubuh pria itu
timbul-tenggelam di tengah gelapnya malam dan cahaya bulan yang tidak
terlalu banyak, dihalang-halangi oleh rimbunnya dedaunan. Menyedihkan.
Alex berusaha tidak menggubris beberapa helai daun yang nyangsang di
sela-sela rambutnya walau benda hijau itu membuatnya tampak buruk.
Gadis itu jauh lebih memerdulikan Foresight dan jarak antara mereka
yang makin jauh saja. Well well, ia harus cepat. Dan walau ia kesal, ia
harus mengakui bahwa apa yang Foresight katakan itu benar. Ia harus
cepat dan ia memang cebol. Sigh. Harusnya Foresight melihat apa yang
akan terjadi padanya di tahun ketujuh nanti. Langsing, tinggi, sexy.
She gonna be everything.
"Trims sudah mengingatkan bahwa Alex
cebol, Foresight. Just take a look at me for a few years later," sahut
Alex dongkol. Gadis itu memeluk Axelette di bawah dagunya, menghirup
aroma chamomile-green tea yang disemprotkan di belakang kepala
berbulunya. Just relax, Dear Ivonette. You'll be fine. Sesuatu terjadi.
Ia memindahkan pandangan ke arah tangan kanannya yang harusnya sibuk
menyibak, tapi kini sudah terbelit oleh ranting lunak salah satu
tanaman ajaib penghuni Forbidden Forest. Oh damn great. Now what?
Setelah sibuk berkencan buta dengan Foresight dalam arti sebenarnya,
sekarang mantel bulunya berisiko sobek pula. Alex tidak suka ini. Tetap
memegang Axelette, gadis itu mencoba melepaskan diri dari belitan
ranting lunak di tangan kanannya, masih mencoba setia pada langkahnya.
Bukankah ini bagus eh? Mengikuti Foresight ke dalam hutan terlarang
hanya untuk mendapati bahwasanya mantel bulumu akan segera sob--
Bruk.
Alex
memantul, menghantam tubuh tegap Foresight dengan tubuhnya dari
belakang. Bergumam sori tanpa sengaja, refleks. Damn. Ini salahnya,
Little Lexie. Kenapa malah kau yang minta maaf? Alex mengernyit,
menyatukan dua alisnya yang tertata rapi di tengah-tengah keningnya.
"What the hell that you do, Mow? Kenapa kau berhenti tiba-tiba?" gadis
itu misuh-misuh sambil memegangi hidungnya yang senut, sakit oleh
tulang punggung Foresight yang menonjol. What the? Alex tak tahu kalau
ternyata dia kurus sekali. Kasihan juga jadinya. Jangan-jangan dia tak
mau memakan makanan yang telah disediakan oleh Hogwarts untuknya. Alex
mengamati pria yang kini merogoh saku jumpernya, mengeluarkan sesuatu
yang panjang berkilauan dari dalamnya dan seketika membuat Alex
bergidik.
"Lehernya, Mr. Robson Sir. Disabet oleh benda setajam itu tak akan terselamatkan sedikitpun."
"Lalu kenapa mereka harus ambil Nenek? Kenapa tidak bawa lari mobilnya saja?"
"Hei hei Ivy. Apa yang kau lakukan disini? Pergi ke kamarmu, sekarang."
"Tak akan sebelum kalian kembalikan nenek padaku."
"Buang...."
Suara
Alex terdengar, bergetar. Rasa takut menyelimutinya secara tiba-tiba.
Kengerian yang keterlaluan, dan kelebatan memori yang berebutan berlari
di ingatannya. Tidak. Benda yang dipegang Foresight, ia pernah melihat
benda yang sama sebelumnya. Hanya bedanya, yang waktu itu berlumuran
sesuatu berwarna merah. Darah. Lagi-lagi rasa sakit itu hadir, memenuhi
kepalanya. Pening. Bibirnya bergetar, begitu juga seluruh tubuhnya.
"Mau apa kau dengan benda itu, eh? Buang benda itu, segera...."
Player: Hayden Foresight
Gruop : Staff Hogwarts
Pangkat : Penjaga Sekolah
Vis: ![]()
Diam-diam, Hayden sebenarnya meringis. Punggung
tangannya terasa sedikit-agak-cukup-nyeri. Andai tak ingat bahwa si
cebol itu masih di bawah umur, belum pantas dianiaya, mungkin sejak
tadi telapak tangan Hayden sudah terkepal dan siap melayangkan tinju
andalannya ke rahang gadis itu. Heran. Pasta gigi bekadar fluoride
seberapa persen yang digunakan bocah cebol ini, hm. Gigitannya cukup
membuat punggung tangan Hayden memerah menit berikutnya. Parah. Setelah
ini ingatkan Hayden untuk mengetuk pintu Hospital Wing dan meminta
salep anti bakteri yang akan segera dibalurkan Hayden secara menyuluruh
ke sekujur tubuhnya. Betapa tak terduga, anak sekecil itu berbakat
mutlak menjadi regenerasi Vlad Dracula. Vaksinasi, terima kasih sudah
mengingatkan, cebol.
Hampir lupa, bukannya Hayden mati rasa?
Yeah. Harusnya. Dan telinganya hanya menangkap sekilas gelintiran
cuap-cuap Robson muda tentang Vin-entah-siapa-Robson yang katanya telah
meninggal itu. Bagus. Hayden tak perlu bersusah payah dalam pelaksanaan
misi penyambutan ‘selamat-datang-Robson-cebol’ pada malam hari ini.
Akan ke mana mereka? Masuk lebih dalam tentu saja. Sosok tegap itu
melangkah acuh tak acuh dengan tangan tersembunyi di dalam saku jemper
hitamnya. Angin dingin berhembus jauh dari kata pelan, membuat helai
kecoklatan Hayden bergerak liar dan jatuh menjuntai menyembunyikan
separoh bagian struktur wajah khas Windsornya. Titisan paras Eropa
Charless bedebah yang rupa-rupanya kini terbaring lemah tak
berdaya di kediaman bangsawan Windsor. Berharap Hayden pulang, hm?
Jemput sendiri bila itu maumu, dude Daddy. Jemput lalu sembah
sujud di kaki Hayden bila perlu. Tarik kembali umpatan serta kalimat
pengusiran sarkasme tiga tahun yang lalu, dan Hayden akan
mempertimbangkan untuk pulang.
Tapi jangan harap ia akan
menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah pemilik suara yang kini
berteiak menyerukan kata 'Tunggu' dengan sangat dahsyat. Seolah pita
suaranya setebal bonggol dedalu perkasa yang tak akan sobek
bagaimanapun wujud amukannya. Hayden terus saja melangkah, lagipula
Robson punya kaki, tentu bisa mengejar. Kecuali bila cebol itu
sedemikian tololnya menggunakan sepatu berhak malam ini. Semoga tidak,
dan kalaupun iya—Hayden takkan ambil pusing.
“Cepat—cebol”
Hayden berseru lantang, bergerak gesit melewati rerimbunan pohon,
menginjak semak belukar tanpa sedikitpun menaruh minat akan slogan
save-our-forest dan sebagainya. Sekitar lima meter bertolak dari titik
awal tadi, Hayden berhenti. Mengambil sesuatu dari dalam saku
jempernya. Sesuatu yang panjang dan berkilat cemerlang ditimpa sinar
rembulan. “Tahu apa ini, cebol?”
Pisau. Semoga Robson bisa melihatnya dengan jelas.
credit to Harrypotterrpg.co.cc
Player: Ivy Alexey Robson
Asrama : Ravenclaw
Kelas: Tiga
Vis: 
"Kau. Tidak. Katakan. Apa. Yang. Akan. Kita. Lakukan. Blekok."
Anjir sekali ini si Foresight, sudah membuat Alex harus berada di sini tengah malam buta (ralat. Nyaris
tengah malam), tidak memberitahu dengan segera apa yang akan mereka
lakukan pula. Jiah, cari masalah dia dengan Alex. Ngomong-ngomong,
bisa-bisanya dia santai-santai saja menepuk punggung Alex agar dia bisa
muntah dengan lebih lancar. Sinting. Sungguh si Foresight sinting.
Gadis muda itu mempererat pelukannya pada Axelette dan menatap pria
berjumper hitam itu dari atas sampai bawah. Ngek, geblek sekali sih,
malam-malam di tepi hutan kok yo pakai baju hitam. Digigit nyamuk baru
tahu kau. Heit, Alex. Kau lupa bahwasanya barusan kau menggigitnya dan
ia tidak memberi respon lebih dari pandangan-sok-dingin-ngek-nya yang
khas itu. Anjir.
"Tahu satu hal, Foresight?" tanyanya dengan
nada polos sambil nyengir lebar, dengan jelas menantang pria itu dengan
pandangan meremehkannya. Dengan satu gerakan, ia menjilat pelan
bibirnya sambil tersenyum, kali ini sinis. "Kau perlu vaksinasi." Yeah,
apa lagi yang dibutuhkan oleh seseorang yang sudah digigit oleh Alex
selain serbuan vaksinasi, eh? Ingat saja. Giginya yang putih rata itu
berbahaya. Walau ia tahu ia tidak punya hubungan darah sedikitpun
dengan Count Dracula. Alex mengelus kepala Axelette pelan dengan mata
yang terpancang ke tangan Foresight yang memerah. Ngek, hebat juga dia
bisa menahan rasa sakit yang ditanamkan oleh gigi kecil Alex.
Alex
menatap pria itu super sinis. Membiarkannya melangkah mendahului Alex,
lebih dekat lagi memasuki Forbidden Forest. Tetap memancangkan
pendengarannya sambil berusaha mencerna pertanyaan dari Foresight
untuknya. "Orang meninggal? Sudah--" Alex menghentikan kalimatnya
sebentar, mengisinya dengan lengosan datar. "--Bernadette Viona Robson.
Meninggalnya sudah lama. Waktu Alex masih tujuh ta... Hey, siapa yang
kau bilang cebol eh, Foresight buduk?" nada suara Alex meninggi,
menandakan lagi-lagi Foresight berhasil memancingnya membuka mulut dan
menceritakan hal-hal yang tidak berguna. Ngek. Foresight jelek. Kau sudah lihat kan, bagaimana menyebalkannya Foresight ini, Axelette? batin Alex sambil mengerling Axelette dari sudut matanya. Me-nye-bal-kan.
Alex
mempercepat langkahnya yang tertinggal di belakang oleh sepasang kaki
panjang Foresight. Lelah juga bercepat-cepat begini. Tapi ia tidak
boleh menyerah begitu saja. Tidak jika dengan Foresight sebagai
lawannya. Pria itu memasuki bibir hutan terlarang dan mulai menghilang
di sela semak belukar yang kelam sebagai penyambut tamu yang diutus
oleh makhluk-makhluk liar penghuninya. Ngek. Alex harus masuk ke dalam
sini? Oh come on. Dengan berhasil keluar dari labirin tanaman dalam
waktu yang relatif singkat, bukan berarti dia tahan memasuki tempat
penuh sulur begini. Ditatapnya punggung Foresight yang mulai lenyap
dari pandangan dengan kening mengernyit. Oh, damn. Dia akan menghilang.
Apa. Boleh. Buat.
"Tunggu Foresight!"
credit to Harrypotterrpg.co.cc
Player: Hayden Foresight
Gruop : Staff Hogwarts
Pangkat : Penjaga Sekolah
Vis: ![]()
Forbidden Forest, gelap seperti biasanya. Cahaya
bulan merupakan satu-satunya sumber cahaya di tengah rerimbunan pohon
yang riuh bergesekan menimbulkan bisikan semesta yang menyatu abstrak
dengan kisikan suara berisik makhluk selepas senja. Rahasia alam, yang
tak bisa diprediksi. Maka biarkan saja simpul saraf Hayden bekerja
sebagaimana mestinya sementara sang pemilik raga masih enggan beranjak
ke mana-mana. Dan atas nama apa pula Hayden berdiri tegap di belakang
nona mungil bermantel bulu ini? Robson junior yang dipastikan akan
mewarisi segumpal kekayaan fana keluarganya, hm. Menarik, milady. Kau
sendiri yang mengumpankan diri untuk diamuk Hayden. Bukan ide buruk
membekuk taktis gadis mungil ini, menyanderanya dengan ancaman
mutilasi, lalu meminta tebusan sekian milyar dollar dan Hayden akan
berkelana bebas. Lepas dari embel-embel penjaga sekolah asuhan Felder.
Andai
saja Hayden masih bisa mengecap bagaimana rasa bahagia itu, mungkin ia
sudah berada di Las Vegas sekarang. Menenggelamkan diri di antara
sekelompok budak setan penegak berliter Vodka hasil sulingan gandum
yang difermentasi. Pasrah saja pada takdir malam yang siap memeluknya
dengan hangat, andai? Mungkin dunia tak sepekat bayangan Hayden. Hayden
Foresight yang memilih berbaring nyalang di atas ranjang sementara
sepasang kristal keabuannya menelaah tekstur plafon biliknya. Dia yang
tersenyum pun tak sempat saking lupanya bagaimana cara melengkungkan
bibirnya. Terbayang nyata dikenang harinya, bagaimana gadis itu pergi
dengan cara yang tidak wajar. Dirampas. Ambil paksa—dan salahkah Hayden
bila menuntut banyak pada Sang Pencipta?
Sejujurnya, Hayden hanya ingin satu hal—kembalikan Hellen kepadanya, Tuhan.
Satu
teriakan perusak kinerja gendang telinga membuat Hayden berjengit
seketika dan sejurus kemudian tangannya yang masih bertengger di pundak
Robson muda, tertarik ke depan. Senaif dugaannya, Robson masih kecil.
Sungguh. Respon lady cebol di depannya ini membawa benak Hayden kembali
pada salah satu artikel yang digoreskan Hellen pada selembar perkamen
ketika Ravenclaw tercintanya itu baru saja melakukan observasi di salah
satu Panti Asuhan kumuh di desa Hogsmeade.
Usia
2 atau 3 tahun merupakan usia transisi awal, yang ditandai dengan
keinginan besar pada diri anak untuk menjadi mandiri. Tapi di sisi
lain, kemampuan bahasa anak belumlah optimal. Kemampuan verbal dan
perbendaharaan kosakatanya masih terbatas. Ia tidak bisa mengungkapkan
sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkan dengan jelas alias
bahasanya tidak mudah dimengerti orang dewasa
Agresivitas
cebol itu barusan membuat Hayden tersadar—ia tidak sendirian di tempat
ini. Ada Robson yang menanti untuk ditangani. Tangan besar Hayden
bergerak cepat menepuk (atau lebih tepatnya menggebuk) punggung Robson
cebol. Membantu prosess-akan-muntahnya. Bibirnya tetap terkatup rapat,
diam tanpa kata. Mendengar sambil lalu ocehan Robson cebol dan sontak
saja bahu lebar milik Hayden terangkat praktis. Tak tahu non
verbal—sosok tegap itu melangkah maju. “Kau sudah pernah melihat
seseorang meninggal eh, cebol?” tanpa menoleh dan tetap melangkah
memasuki area hutan terlarang, Hayden bertanya datar.
Apa yang akan dilakukan Hayden? Bagaimana reaksi Robson?
To be a continued. Don't miss it.
credit to Harrypotterrpg.co.cc

Subcribe RSS of this blog